Ujian Nasional atau teror nasional

Ujian Nasional Teror Nasional

HAJATAN besar berlabel ujian nasional sekolah lanjutan tingkat atas baru saja berakhir. Inilah perhelatan dunia pendidikan yang menjadi momok dan tidak pernah sepi dari kontroversi setiap tahun berganti.

Ujian nasional yang disebut-sebut pemerintah sebagai jurus jitu penentu mutu siswa telah berubah menjadi teror yang kian menakutkan secara nasional. Sebabnya, beban materi pelajaran yang diujikan bertambah dan standar kelulusan dinaikkan, tetapi tidak disertai dengan meningkatnya mutu guru dan fasilitas pendidikan yang setara dan merata secara nasional.

Kini, siswa harus menghadapi enam mata pelajaran dari semula hanya tiga. Artinya, beban naik 100%. Serentak dengan itu, standar kelulusan pun didongkrak dari 5,0 menjadi 5,25. Akibatnya, beban psikis anak-anak pun naik berlipat-lipat.

Bukan hanya beban psikis siswa yang bertambah. Tetapi beban moral dan psikis guru dan kepala sekolah pun naik berlipat ganda. Malu besar jika banyak murid yang tidak lulus. Malu, sekalipun kegagalan murid bukan karena ketidakmampuan sekolah dan murid. Ketidakmerataan mutu dan jumlah guru serta ketimpangan sarana dan prasarana pendidikan secara nasional jelas bukan kesalahan sekolah dan guru, melainkan sepenuhnya kesalahan pemerintah.

Akibatnya, agar lulus ujian nasional, guru dan kepala sekolah berubah menjadi maling. Sebanyak 17 guru dan seorang kepala sekolah menjadi tersangka karena kasus kecurangan ujian nasional.

Tujuh belas guru itu mengakui telah mengubah jawaban untuk mata pelajaran bahasa Inggris sesuai dengan kunci jawaban. Sebuah tindakan yang masuk akal dilakukan guru karena salah satu yang tidak merata secara nasional adalah mutu guru bahasa Inggris dan fasilitas yang mendukungnya.

Seorang kepala sekolah pun berubah status menjadi tersangka karena menyebarkan jawaban. Begitulah, gara-gara ujian nasional, guru dan kepala sekolah mendadak berubah status dari pendidik menjadi pencuri. Itu jumlah guru dan kepala sekolah yang ketahuan dan tertangkap. Berapa banyak yang lolos?

Ujian nasional seharusnya dihentikan. Ujian nasional telah mendapat perlawanan yang sengit dan gigih untuk tidak dilaksanakan. Salah satu bentuk perlawanan itu adalah membawanya ke pengadilan. Namun, pemerintah hasil pilihan rakyat yang sekarang berkuasa tidak peduli dengan perlawanan itu.

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, misalnya, dalam amar putusannya tertanggal 6 Desember 2007, tapi baru terungkap pada 14 April lalu telah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tertanggal 21 Mei 2007. Salah satu poin penting dari putusan itu adalah mengembalikan hak penentuan kelulusan siswa kepada otoritas guru dan satuan pendidikan atau sekolah. Poin penting lainnya, sebelum ujian nasional dilaksanakan, kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, dan akses informasi yang lengkap di seluruh Indonesia harus ditingkatkan.

Nah, apakah hal-hal itu yang sebenarnya tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah dipenuhi pemerintah? Jawabannya jelas, belum!

Contoh paling gamblang bisa dilihat dari masih banyaknya sekolah, terutama di daerah bencana dan kawasan terpencil yang tidak layak dipakai sebagai wadah proses belajar-mengajar.

Tapi pemerintah terus memaksakan ujian nasional sekalipun melanggar undang-undang dan mengabaikan proses pengadilan yang sedang berlangsung. Padahal, jelas-jelas ujian nasional telah memasung proses belajar-mengajar siswa selama tiga tahun hanya dalam hitungan tiga hari.

Ujian nasional telah berubah menjadi teror yang merusak mental secara nasional. Guru dan kepala sekolah berubah menjadi maling.

4 thoughts on “Ujian Nasional atau teror nasional

  1. Heya this is kinda of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with
    HTML. I’m starting a blog soon but have no coding knowledge so I wanted to get guidance from someone with experience. Any help would be greatly appreciated!

  2. A person meet a person and you just fall in love and that’s this. The true lover is the man who can thrill you through kissing your forehead or smiling into your eyes or just looking into space. – Eleanor Roosevelt (American United Nations Diplomat, Humanitarian and First Lady).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s